Oleh: Bang Yudi | 11 Oktober 2008

Sepi…

Hidupku sepi
Terasa sunyi
Apa ini
Seperti mati

Dunia ini sempit
Sempit bagi hati yang pedih
Hidup ini rumit
Rumit bagi jiwa yang susah

Kekecewaan menghantui
Kepedihan menghantui
Kemarahan menghantui
Bahkan setan ikut menghantui

Ada tapi tiada
Lebih baik dia pergi
Daripada rusak nama
Hancur harga diri

Masa depan generasi baru
Generasi pencerahan
Sementara berhenti dulu
Kita pilih jalan di persimpangan

Cita-cita disimpan dulu
Kelak digantungkan kembali
Benahi dulu
Agar tegap melangkah lagi

Ibu
Ku belum bisa membalas jasamu
Ibu
Ku kan berusaha membahagiakanmu

Ayah
Ku tak punya engkau lagi
Ayah
Puaskan saja hati

Tuhan
Ku tahu Engkau Maha Tahu
Tuhan
Ku mohon lindungi Aku

Iklan
Oleh: Bang Yudi | 19 September 2008

Lebaran antara Ibadah dan Tradisi…

Tak terasa sudah 19 hari kita menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan tahun 1429 H ini. Tinggal 11 hari lagi hari kemenangan akan tiba atau biasanya kita sebut Lebaran atau Hari Raya Idul Fitri.

Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, pada tahun ini entah bagaimana pasar masih biasa-biasa saja, belum tampak kerumunan para pembeli memborong kebutuhan lebaran. Apakah masih lama ya lebarannya atau karena keadaan ekonomi negara kita yang memang pada titik nadir terendah pasca kenaikan harga BBM?


sumber gambar : http://www186.123greetings.com

Di Kalimantan Barat sendiri, sudah menjadi tradisi kalau lebaran itu dirayakan secara meriah. Sangat bahagia rasanya merayakan hari kemenangan di Kalimantan Barat ini, sangat berbeda dibandingkan dengan daerah lain. Tapi dengan keadaan ekonomi negeri ini yang sedang terpuruk alangkah baiknya kita merayakan hari kemenangan ini dengan apa adanya. Suasana meriah bukan dilihat dari uang yang dikeluarkan tetapi ada di dalam bentuk silaturahim sesama ummat muslim.

Pemaksaan mengikuti suatu tradisi yang salah bisa kita lihat dengan ramainya rumah pegadaian diserbu masyarakat di bulan Ramadhan, inilah sisi negatifnya yaitu orang sampai berhutang untuk memenuhi kebutuhan lebaran. Padahal dari sudut pandang agama sebenarnya Hari Raya Idul Fitri adalah hari kita saling bermaaf-maafan dan menyambung tali silaturahim sesama ummat muslim. Jadi kita di hari yang fitrah tersebut cukuplah saling bermaafan bukan menonjolkan harta benda kita.

Akhir kata ada sebuah pantun yang akan saya persembahkan bagi para pembaca blogger ini,

Pergi ke sungai memancing udang galah,
Udang galah tak naik yang dapat ikan juara,
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1429 Hijriah,
Mohon Maaf Lahir dan Bathin dari kami sekeluarga.

Wassalam.

Oleh: Bang Yudi | 14 September 2008

Pojok Mutiara 2…

Dalam hidup bermasyarakat, padukanlah keteguhan dengan taktik; dalam berhubungan dengan manusia, padukanlah kebaikan dengan prinsip. Lupakan kebaikan yang telah kamu lakukan kepada orang lain, tetapi jangan melupakan kesalahanmu. Ingatlah selalu kebaikan yang kamu terima, tetapi jangan mengingat-ngingat kesalahan yang diperbuat orang lain kepadamu.

Kisah-kisah Kebijaksanaan China Klasik, Refleksi bagi Para Pemimpin.
Michael C. Tang

Assalammualaikom.

Suatu pagi, sekitar jam 7 di seputaran Jalan Gajahmada & Jalan Tanjungpura terlihat ramainya parkiran sepeda motor & mobil. Rate-rate mereke parkir di depan warung kopi (warkop). Merupekan hal yang dah lazim jike kite jalan-jalan pagi sampai ke Jalan Hijas, mereke “jin iprit” tu kumpol, dimane seperti yang sudah tertanam didalam pikiran saye sejak SD dolok bahwe pade bulan puase tak ade yang namenye hantu atau jin, mereke kena ikat jadi tak bise melakukan penampakan atau pun godaan kepade manusie. Mungkin yang kena ikat ni yang tercipte dari api, tapi yang tercipte dari tanah & musti dibakar dengan api belum sempat diikat oleh malaikat. Iye ke?

Sebagai ummat muslim saye bepikir & merenung, bagaimane lah agama lain nak menghormati agame kite (Islam) jike ummatnye sorang tadak malu & terang-terangan melanggar aturan-aturan agamenye sorang – berarti kan tidak hormat dengan agamenye sorang???? Puase nilah tempat kite menempa kedisiplinan diri, emosi diri, intelejensi diri sehingge didapatlah kepribadian – ketaqwaan – keimanan kite yang kuat & tegar. Kite harusnye malu menampakkan perilaku buruk kite dengan tidak berpuase di muke umum, meminjam istilah Naga Bonar “Ape kate dunie?”. Who said like that. Wake Me UP. Jadi kite akan menegur para pelaku bisnis warkop pun tak bise karena yang minum pun ummat muslim gak. Hancorlah dah.
Lebih parah agi, kadang pakai ngajak-ngajak kawan agi tuh buka puase ni. Jin iprit dah beranak pinak. Nak jadi ape dunie nih? Kalo “kemaluan” tuh nak minta besak, tapi urat malu udah tak ade. Ngucap-ngucap-ngucap, esok puase (gunekan nade Upin-Ipin ye).

Mudah-mudahan pemerintah selaku pemegang otoritas kebijakan publik dapat menertibkan warkop yang buka di waktu ibadah puase. Memang tidak semuenye yang minum adalah ummat muslim tapi sebagai bentuk toleransi ummat beragama hendaknye kite dapat membuat jadwal buka warkop setelah maghrib atau mendekati maghrib, sekalian menjual hidangan buka puase. Minjam kate pepatah, ade gule ade semut. Nah gitu gak dengan orang yang tak puase, karene die meliat ade warkop yang buka make dilajakkannye tadak puase. Betol tadak ni?
Semue kite kembalikan ke individu masing-masing. Mau pahale atau dose? Oke, selamat berbuka puase ye. Eh salah, selamat menjalankan ibadah puase ye.

Wassalam.

Oleh: Bang Yudi | 10 September 2008

Malam Lailatul Qadar – Malam Seribu Bulan…

15 Agustus 08 oleh Abu Umar

Penulis: Asy Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaaly, Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid

Malam Lailatul Qadar Keutamaannya sangat besar, karena malam ini menyaksikan turunnya Al Quran Al Karim yang membimbing orang-orang yang berpegang dengannya ke jalan kemuliaan dan mengangkatnya ke derajat yang mulia dan abadi. Ummat Islam yang mengikuti sunnah Rasulnya tidak memasang tanda-tanda tertentu dan tidak pula menancapkan anak-anak panah untuk memperingati malam ini (malam Lailatul Qodar/Nuzul Qur’an, red), akan tetapi mereka bangun di malam harinya dengan penuh iman dan mengharap pahala dari Allah.
Inilah wahai saudaraku muslim, ayat-ayat Qur’aniyah dan hadits-hadits Nabawiyyah yang shahih yang menjelaskan tentang malam tersebut.
1. Keutamaan Malam Lailatul Qadar
Cukuplah untuk mengetahui tingginya kedudukan Lailatul Qadar dengan mengetahui bahwasanya malam itu lebih baik dari seribu bulan, Allah berfirman :إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ ﴿١﴾ وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ ﴿٢﴾ لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ ﴿۳﴾ تَنَزَّلُ الْمَلاَئِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ ﴿٤﴾ سَلاَمٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ ﴿٥﴾ [القدر: ١ – ٥](yang artinya) [1] Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur’an) pada malam kemuliaan. [2] Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? [3] Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. [4] Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. [5] Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar. [QS Al Qadar: 1 – 5]
Dan pada malam itu dijelaskan segala urusan nan penuh hikmah :إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ ﴿۳﴾ فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ ﴿٤﴾ أَمْرًا مِنْ عِنْدِنَا إِنَّا كُنَّا مُرْسِلِينَ ﴿٥﴾ رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ ﴿٦﴾ [الدخان: ۳ – ٦](yang artinya) :“Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. [4] Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, [5] (yaitu) urusan yang besar dari sisi Kami. Sesungguhnya Kami adalah Yang mengutus rasul-rasul, [6] sebagai rahmat dari Tuhanmu. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”[QS Ad Dukhoon: 3 – 6]
2. Waktunya
Diriwayatkan dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam bahwa malam tersebut terjadi pada malam tanggal 21, 23, 25, 27, 29 dan akhir malam bulan Ramadhan. (Pendapat-pendapat yang ada dalam masalah ini berbeda-beda, Imam Al Iraqi telah mengarang satu risalah khusus diberi judul Syarh Shadr bidzkri Lailatul Qadar, membawakan perkatan para ulama dalam masalah ini, lihatlah).Imam Syafi’I berkata : “Menurut pemahamanku, wallahu a’lam, Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab sesuai yang ditanyakan, ketika ditanyakan kepada beliau : “Apakah kami mencarinya di malam hari?”, beliau menjawab : “Carilah di malam tersebut.”. (Sebagaimana dinukil al Baghawi dalam Syarhus Sunnah (6/388).
Pendapat yang paling kuat, terjadinya malam Lailatul Qadr itu pada malam terakhir bulan Ramadhan, berdasarkan hadits ‘Aisyah Radiyallahu ‘anha, dia berkata : Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam beri’tikaf di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan dan beliau bersabda : (yang artinya) “Carilah malam Lailatur Qadar di (malam ganjil) pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.”. (HR Bukhari 4/255 dan Muslim 1169)
Jika seseorang merasa lemah atau tidak mampu, janganlah sampai terluput dari tujuh hari terakhir, karena riwayat Ibnu Umar (dia berkata) Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda (yang artinya) : “Carilah di sepuluh hari terakhir, jika tidak mampu maka jangan sampai terluput tujuh hari sisanya.” (HR Bukari 4/221 dan Muslim 1165).
Ini menafsirkan sabdanya : (yang artinya) “Aku melihat mimpi kalian telah terjadi, maka barangsiapa ingin mencarinya, carilah pada tujuh hari yang terakhir.” (Lihat maraji’ diatas).
Telah diketahui dalam sunnah, pemberitahuan ini ada karena perdebatan para sahabat. Dari Ubadah bin Shamit Radiyallahu ‘anhu, ia berkata Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam keluar pada malam Lailatul Qadar, ada dua orang sahabat berdebat, beliau bersabda : “Aku keluar untuk mengkhabarkan kepada kalian tentang malam Laitul Qadar, tetapi fulan dan fulan (dua orang) berdebat hingga diangkat tidak bisa lagi diketahui kapan lailatul qadar terjadi), semoga ini lebih baik bagi kalian, maka carilah pada malam 29,27,25 (dan dalam riwayat lain : tujuh, sembilan, lima). (HR Bukhari 4/232).
Telah banyak hadits yang mengisyaratkan bahwa malam Lailatul Qadar itu pada sepuluh hari terakhir, yang lainnya menegaskan di malam ganjil sepuluh hari terakhir. Hadits yang pertama sifatnya umum, sedang hadits kedua adalah khusus, maka riwayat yang khusus lebih diutamakan daripada yang umum, dan telah banyak hadits yang lebih menerangkan bahwa malam Lailatul Qadar itu ada pada tujuh hari terakhir bulan Ramadhan, tetapi ini dibatasi kalau tidak mampu dan lemah, tidak ada masalah. Maka dengan ini, cocoklah hadits-hadits tersebut, tidak saling bertentangan, bahkan bersatu tidak terpisahkan.
Kesimpulannya :Jika seseorang muslim mencari malam Lailatul Qadar, carilah pada malam ganjil sepuluh hari terakhir, 21, 23, 25, 27 dan 29. Kalau lemah dan tidak mampu mencari ppada sepuluh hari terakhir, maka carilah pada malam ganjil tujuh hari terakhir yaitu 25, 27 dan 29. Wallahu a’lam.
Paling benarnya pendapat lailatul qadr adalah pada tanggal ganjil 10 hari terakhir pada bulan Ramadhan, yang menunjukkan hal ini adalah hadits Aisyah, Ia berkata :“Adalah Rasulullah beri’tikaf pada 10 terakhir pada bulan Ramadhan dan berkata : “Selidikilah malam lailatul qadr pada tanggal ganjil 10 terakhir bulan Ramadhan”.
3. Bagaimana Mencari Malam Lailatul Qadar
Sesungguhnya malam yang diberkahi ini, barangsiapa yang diharamkan untuk mendapatkannya, maka sungguh telah diharamkan seluruh kebaikan (baginya). Dan tidaklah diharamkan kebaikan itu, melainkan (bagi) orang yang diharamkan (untuk mendapatkannya). Oleh karena itu, dianjurkan bagi muslimin (agar) bersemangat dalam berbuat ketaatan kepada Allah untuk menghidupkan malam Lailatul Qadar dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahalaNya yang besar, jika (telah) berbuat demikian (maka) akan diampuni Allah dosa-dosanya yang telah lalu. (HR Bukhari 4/217 dan Muslim 759).
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya), “ Barangsiapa berdiri (shalat) pada malam Lailatul Qadar dengan penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” yang telah lalu. (HR Bukhari 4/217 dan Muslim 759)
Disunnahkan untuk memperbanyak do’a pada malam tersebut. Telah diriwayatkan dari Sayyidah ‘Aisyah Radiyallahu ‘anha, (dia) berkata : “Aku bertanya, Ya Rasulullah (Shalallahu ‘alaihi wassalam), Apa pendapatmu jika aku tahu kapan malam Lailatul Qadar (terjadi), apa yang harus aku ucapkan ?”. Beliau menjawab, “Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘annii. Ya Allah, Engkau Maha Pengampun dan mencintai orang yang meminta ampunan, maka ampunilah aku.”. (HR Tirmidzi (3760), Ibnu Majah (3850), dari Aisyah, sanadnya shahih. Lihat syarahnya Bughyatul Insan fi Wadhaifi Ramadhan, halaman 55-57, karya ibnu Rajab al Hanbali.)
Saudaraku – semoga Allah memberkahimu dan memberi taufiq kepadamu untuk mentaatiNya – engkau telah mengetahui bagaimana keadaan malam Lailatul Qadar (dan keutamaannya) maka bangunlah (untuk menegakkan sholat) pada sepuluh malam hari terakhir, menghidupkannya dengan ibadah dan menjauhi wanita, perintahkan kepada istrimu dan keluargamu untuk itu dan perbanyaklah amalan ketaatan.
Dari Aisyah Radiyallahu ‘anha, “Adalah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam apabila masuk pada sepuluh hari (terakhir bulan Ramadhan), beliau mengencangkan kainnya (menjauhi wanita yaitu istri-istrinya karena ibadah, menyingsingkan badan untuk mencari Lailatul Qadar), menghidupkan malamnya dan membangunkan keluarganya.” (HR Bukhari 4/233 dan Muslim 1174).
Juga dari ‘Aisyah Radiyallahu ‘anha, (dia berkata) : “Adalah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersungguh-sungguh (beribadah apabila telah masuk) malam kesepuluh (terakhir), yang tidak pernah beliau lakukan pada malam-malam lainnya.” (HR Muslim 1174).
4. Tanda-tandanya
Ketahuilah hamba yang taat – mudah-mudahan Allah menguatkanmu dengan ruh dariNya dan membantu dengan pertolongaNya – sesungguhnya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam menggambarkan paginya malam Lailatul Qadar agar seorang muslim mengetahuinya.
Dari Ubay Radiyallahu ‘anhu, ia berkata : Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda (yang artinya) : “Pagi hari malam Lailatul Qadar, matahari terbit tanpa sinar menyilaukan, seperti bejana hingga meninggi.” (HR Muslim 762).
Dari Abu Hurairah, ia berkata : Kami menyebutkan malam Lailatul Qadar di sisi Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam beliau bersabda : (yang artinya) “Siapa diantara kalian yang ingat ketika terbit bulan, seperti syiqi jafnah.” (HR Muslim 1170. Perkataannya “Syiqi Jafnah”, syiq artinya setengah, jafnah artinya bejana. Al Qadli ‘Iyadh berkata :”Dalam hadits ini ada isyarata bahwa malam Lailatul Qadar hanya terjadi di akhir bulan, karena bulan tidak akan seperti demikian ketika terbit kecuali di akhir-akhir bulan.”)
Dan dari Ibnu Abbas Radiyallahu ‘anhu, ia berkata : Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda (yang artinya) : “ (Malam) Lailatul Qadar adalah malam yang indah, cerah, tidak panas dan tidak juga dingin, (dan) keesokan harinya cahaya sinar mataharinya melemah kemerah-merahan.” (HR Thyalisi (349), Ibnu Khuzaimah (3/231), Bazzar (1/486), sanadnya hasan).
(Dikutip dari Sifat Puasa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam oleh terbitan Pustaka Al-Mubarok (PMR), penerjemah Abdurrahman Mubarak Ata. Cetakan I Jumadal Akhir 1424 H. Judul asli Shifat shaum an Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam Fii Ramadhan, Bab “Malam Lailatul Qadar”. Penulis Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaaly, Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid. Penerbit Al Maktabah Al islamiyyah cet. Ke 5 th 1416 H. Edisi Indonesia)

Sumber: http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&id_artikel=757

Older Posts »

Kategori